Minggu, 11 Agustus 2024

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


Perkenalkan saya SAYED MUNANDAR, S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau, dari SDN 11 Rupat. Di bawah bimbingan Fasilitator Ibu Roza Novita, S.Pd.AUD.,M.Pd, dan Pengajar Praktik, Bapak Wawan Setyawan, S.Ag.,M.Pd.
Pada kesempatan ini saya akan menulis Rangkuman Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Namun sebelumnya saya kutipkan kalimat bijak berikut ini untuk menjadikan renungan bagi kita bersama.

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ”
(Bob Talbert).

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. Pada hakikatnya pendidikan ini untuk mengembangkan potensi seseorang dan diarahkan pada tujuan yang diharapkan untuk menjadikannya sebagai manusia yang utuh. Pemberdayaan potensi peserta didik diarahkan untuk membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.
Sebagai sebuah institusi moral, sekolah merupakan sebuah miniatur dunia yang berkontribusi terhadap terbangunnya budaya, nilai-nilai, dan moralitas dalam diri setiap murid. Perilaku warga sekolah dalam menegakkan penerapan nilai-nilai yang diyakini dan dianggap penting oleh sekolah, adalah teladan bagi murid. 
Seorang pendidik harus mampu menjadi teladan bagi murid-muridnya. Hal ini akan tercermin dalam perilaku kesehariannya, sehingga seorang pendidik dapat menjadi role model bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah bahkan di lingkungan tempat tinggal.
Dalam menjalankan perannya, kita sebagai seorang pendidik harus mampu memberikan kontribusi bagi peserta didik, dimana dalam setiap pengambilan keputusan harus berpihak kepada murid yang berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan. Kita menyadari bahwa setiap pengambilan keputusan akan merefleksikan integritas sekolah, nilai-nilai apa yang akan dijunjung tinggi, dan keputusan-keputusan yang diambil kelak akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah dan lingkungan sekitarnya. Jadi seorang pendidik senantiasa berupaya untuk menanamkan karakter dengan menjunjung nilai-nilai kebajikan universal dan memperhatikan kebutuhan setiap peserta didik. Hal ini sejalan dengan kalimat bijak berikut:

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Memahami kalimat tersebut, maka pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter , norma-norma sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan saat ini yang kita poles seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai negeri ini di masa depan.

Setelah kita memahami beberapa hal diatas, berikut adalah pendekatan atas tinjauan dari koneksi antar materi pada modul 3.1 Pendidikan Guru Penggerak tentang pengambilan keputusan.

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara, yakni Pratap Triloka. Seorang pemimpin yang menerapkan filosofi ini akan lebih mudah dalam mengambil keputusan jika ada masalah. Hasilnya pun cenderung akan lebih diterima oleh pihak-pihak yang terlibat. Seorang pemimpin ada baiknya berlandaskan Pratap Triloka dalam pengambilan keputusan. Berikut penjelasan mengenai Pratap Triloka:
a. Ing ngarsa sung tuladha: di depan selalu memberi contoh atau teladan
b. Ing madya mangun karsa: di tengah selalu memberi semangat
c. Tut wuri handayani: di belakang selalu memberi dorongan atau dukungan

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip- prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita sangat memengaruhi keputusan yang akan kita ambil karena nilai tersebut landasan moral dalam suatu pengambilan keputusan. Misalnya, nilai kejujuran sudah kita pegang, maka dalam pengambilan keputusan kita tidak akan membuat keputusan yang di dalamnya terdapat suatu penipuan atau rekayasa.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan- pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Coaching bisa dilaksanakan untuk memfasilitasi seseorang dalam mengambil suatu keputusan. Dengan teknik coaching, seorang coach bisa membantu coachee memaksimalkan potensi yang dimilikinya sehingga coachee bisa membuat solusi atau mengambil suatu keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan melalui coaching cukup efektif karena minimal ada dua sudut pandang yang digunakan, yakni yang utama dari sudut pandang coachee dan diketahui oleh coach.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Sebagai seorang guru, aspek sosial emosional yang kita miliki akan sangat berpengaruh terhadap hasil keputusan, terutama yang menyangkut masalah dilema etika. Untuk itu, seorang guru harus dalam kesadaran penuh dalam menyikapi suatu masalah dan saat harus mengambil suatu keputusan.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Jika ada kasus yang berkaitan dengan masalah moral atau etika, seorang pendidik harus berlandaskan atau berpedoman pada nilai-nilai kebajikan yang diyakininya. Misalnya ada masalah yang di sana terdapat bujukan moral tentang kejujuran yang sebenarnya menguntungkan secara pribadi, seorang pendidik harus tetap mengutamakan nilai-nilai kejujuran sehingga hasil yang akan diputuskan bisa dipertanggungjawabkan secara moral.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Pengambilan keputusan yang tepat harus melalui paradigma, prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan agar hasil akhirnya berdampak kepada lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Kasus dilema etika tentunya memberikan tantangan kepada seorang pemimpin sebagai pengambil keputusan karena beberapa pilihan tentunya harus berhadapan dengan beberapa pihak. Hasil keputusan dari dilema etika kadang menimbulkan pro dan kontra yang merupakan tantangan yang harus dihadapi. Hasil keputusan yang menimbulkan tantangan tentunya berkaitan dengan perubahan paradigma karena jika paradigma yang digunakan oleh beberapa orang yang terlibat kadang berbeda. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap sudut pandang seseorang dalam menilai suatu masalah.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Saat kita sebagai guru mengambil keputusan dalam hal pembelajaran kepada murid, tentunya akan sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran yang kita laksanakan. Contohnya saya hanya mengambil satu langkah dari bagian uji keputusan terhadap pembelajaran, yakni uji publikasi. Saat kita melaksanakan pembelajaran dan direkam, apakah jika dipublikasikan kita akan bangga atau sebaliknya kita akan malu? Untuk itu, saat mengambil keputusan tentang pembelajaran kita juga harus menerapkan paradigma, prinsip, dan sembilan langkah dalam mengambil keputusan. Kita bisa menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan bebasis kompetensi sosial emosional untuk mengakomodasi kebutuhan siswa sesuai dengan potensi dan minat yang dimilikinya.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Setiap keputusan yang dilakukan guru sebagai pemimpin pembelajaran akan memengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Jika guru mengambil keputusan untuk melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan potensi dan kebutuhan siswa, maka siswa bisa berkembang secara optimal. Potensi siswa yang berkembang tersebut bisa menjadi bekal bagi siswa tersebut dalam menghadapi persoalan di masa depan.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Simpulan akhir yang dapat dari modul ini adalah saat harus mengambil suatu keputusan, seorang pemimpin harus memperhatikan paradigma dan prinsip pengambilan keputusan, serta keputusan diambil melalui sembilan tahap pengambilan keputusan.
Keterkaitan modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin dengan modul lainnya:
a. Keterkaitan dengan modul 1.1.
Pengambilan keputusan oleh seorang pemimpin harus sesuai dengan salah satu filosofi Ki Hadjar Dewantara, yakni Pratap Triloka: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.
b. Keterkaitan dengan modul 1.2.
Modul 3.1. tentang pengambilan keputusan akan sangat mendukung nilai dan peran guru dalam mengambil keputusan, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran yang berpihak kepada siswa.
c. Keterkaitan dengan modul 1.3.
Modul 3.1. sangat mendukung kemampuan guru dalam mengambil keputusan terkait pembuatan visi yang akan mendukung terwujudnya siswa dengan karakter yang sesuai profil pelajar Pancasila.
d. Keterkaitan dengan modul 1.4.
Saat mengambil keputusan, seorang pemimpin harus memperhatikan atau menghadirkan budaya positif dalam proses dan hasil akhir keputusannya.
e. Keterkaitan dengan modul 2.1.
Seorang guru harus bisa mengambil keputusan yang terbaik dalam menyusun pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Salah satunya adalah saat memutuskan untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.
f. Keterkaitan dengan modul 2.2.
Saat mengambil keputusan, seorang pemimpin harus dalam kesadaran penuh, seperti yang sudah dipelajari dalam modul 2.2.
g. Keterkaitan dengan modul 2.3.
Modul 2.3. membahas topik tentang coaching. Teknik coaching bisa digunakan seorang pemimpin dalam membuat sebuah keputusan.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
a. Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua
   pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sementara itu, bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi
   ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.
b. Empat paradigma pengambilan keputusan.
1) Individu lawan kelompok (individual vs community)
2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
3) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
4) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
c. Tiga prinsip pengambilan keputusan
1) Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2) Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3) Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
d. Sembilan langkah pengambilan keputusan
1) Mengenali nilai yang bertentangan.
2) Menentukan pihak yang terlibat
3) Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi
4) Pengujian benar atau salah
5) Pengujian paradigma benar lawan benar
6) Melakukan prinsip resolusi
7) Investigasi opsi trilema
8) Buat keputusan
9) Lihat lagi keputusan dan refleksikan

Hal yang menurut saya di luar dugaan adalah sebelumnya saya belum mengetahui istilah-istilah dalam pengambilan keputusan, seperti dilema etika, uji publikasi, uji panutan, dan lain-lain. Selain itu, hal di luar dugaan saya adalah ternyata keputusan yang akan kita ambil harus diuji dulu dengan uji legal, regulasi, intuisi, publikasi, dan idola untuk memastikan dampak dari hasil keputusan tersebut.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Saya pernah dihadapkan pada situasi moral dilema, yakni saat pembelajaran jarak jauh akibat covid-19. Ada beberapa siswa yang tidak mengumpulkan tugas. Dilemanya adalah guru harus memberikan nilai kepada siswa tersebut. Di sisi lain, siswa tersebut tidak mengumpulkan tugas. Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap memberikan nilai, tetapi sebatas nilai KKM. Bedanya dengan yang saya pelajari di modul ini adalah sebelumnya saya tidak tahu hal itu disebut dilema moral atau dilema etika. Saya juga sebelumnya belum tahu tentang paradigma, prinsip-prinsip, dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan. Sebelumnya saya memutuskan suatu masalah hanya dengan mengidentifikasi masalah dan mempertimbangkan dampak dari keputusan yang akan dibuat.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Materi dalam modul ini berdampak positif bagi saya, terutama saat dihadapkan untuk mengambil suatu keputusan. Sebelumnya, saya memutuskan suatu masalah hanya dengan mengidentifikasi masalah dan mempertimbangkan dampak dari keputusan yang akan dibuat. Namun, sekarang saya bisa mengaplikasikan paradigma, prinsip-prinsip, dan 9 langkah dalam mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Topik modul ini penting bagi saya sebagai individu karena dalam kehidupan ini kita sering dihadapkan berbagai permasalahan dan kita dituntut mengambil suatu keputusan yang terbaik bagi diri kita. Sebagai seorang pemimpin, topik ini juga sangat penting karena bisa menjadi pedoman saat saya harus membuat suatu keputusan yang dalam hal ini keputusan tersebut tidak hanya menyangkut diri saya pribadi, tetapi menyangkut kepentingan orang banyak.

Itulah tulisan hasil jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada di Koneksi Antar Materi Modul 3.1. Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin, saya menyadari masih sangat perlu untuk belajar lebih banyak, untuk itu mohon masukannya agar menjadikan motivasi bagi saya untuk selalu tergerak belajar dan melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk orang lain. Guru bergerak Indonesia maju.



Minggu, 31 Maret 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan - 1

         Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

        Salam Sejahtera Untuk Kita semua, Perkenalkan Nama saya SAYED MUNANDAR, S.Pd, Calon Guru Penggerak Angkatan 10, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau. Dibimbing oleh Fasilitator Ibu Roza Novita dan pengajar praktek Bapak Wawan Setyawan. Disini Saya akan mencoba menarik Jurnal Refleksi Dwimingguan dari pengalaman pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara Pada Modul 1.1. Jurnal Refleksi Dwimingguan ini dibuat untuk melengkapi salah satu tugas Calon Guru Penggerak. Sebagai Calon Guru Penggerak kami akan merefleksikan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.1 yaitu tentang Filosofis Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan.

        Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). 

        Dalam mengerjakan tugas ini saya menggunakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway, melalui pertanyaan sebagai berikut :

Facts (Peristiwa) : Ceritakan pengalaman Anda mengikuti pembelajaran pada minggu ini atau pada saat aksi nyata ke dalam kelas ? Apa hal baik yang saya alami dalam proses tersebut? Ceritakan juga hambatan atau kesulitan Anda selama proses pembelajaran pada minggu ini? Apa yang saya lakukan dalam mengatasi kendala tersebut?

Feelings (Perasaan): Bagaimana perasaan Anda selama pembelajaran berlangsung? Apa yang saya rasakan ketika menerapkan aksi nyata ke dalam kelas? Ceritakan hal yang membuat Anda memiliki perasaan tersebut`

Findings (Pembelajaran) : Pelajaran apa yang saya dapatkan dari proses ini ? Apa hal baru yang saya ketahui mengenai diri saya setelah proses ini?

Future (Penerapan) : Apa yang bisa saya lakukan dengan lebih baik jika saya melakukan hal serupa di masa depan ? Apa aksi/tindakan yang akan saya lakukan setelah belajar dari peristiwa ini?

        Dibawah ini adalah hasil refleksi yang telah saya lakukan :

        Facts (Peristiwa)

        Kegiatan CGP Angkatan 10 resmi dimulai pada tanggal 15 Maret 2024. Di buka secara resmi oleh Dirjen GTK Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Prof. DR. Nunuk Suryani, M.Pd melalui Zoom yang diikuti oleh CGP Angkatan 10 se-Indonesia. Sesi kedua kegiatan dilanjutkan oleh BGP Provinsi Riau melalui Zoom dan Live Streaming BBGP Riau.Dalam kegiatan ini, CGP diberi arahan tentang rangkaian pelaksanaan kegiatan mulai dari jadwal teknis, hingga strategi dalam mempersiapkan diri dan menjalani tugas selama mengikuti program CGP. Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 10 akan dilaksanakan selama enam bulan, terhitung mulai tanggal 15 Maret 2024 hingga 29 Oktober 2024. Pembelajaran dimulai pada tanggal 15 Maret 2024. Pada hari itu, agendanya pengenalan LMS. Peserta CGP diajak mempelajari apa yang dimuat dalam LMS yang akan dimulai dari Modul 1.1, yang nantinya akan dilaksanakan juga forum diskusi bersama fasilitator pada Ruang Kolaborasi bersama teman-teman CGP lainnya yang dibentuk dalam beberapa Kelompok.

        Pada tanggal 23 Maret 2024 dilaksanakan Lokakarya Orientasi di SDS Cendana Mandau, Kabupaten Bengkalis, mulai pukul 08.00 – 15.30 WIB. Dalam kegiatan lokakarya orientasi dihadirkan pengawas dan kepala sekolah CGP. Dengan diikut sertakannya Kepala Sekolah dalam lokakarya tersebut alangkah bahagianya hati saya karena Beliau mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang perjalanan Pendidikan Guru Penggerak sehingga diharapkan dapat memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada saya sehingga saya dapat melaksanakan Pendidikan Guru Penggerak ini dengan baik. Pada kenyataannya kegiatan lokakarya orientasi lebih banyak berinteraksi dengan Pengajar Praktik dan teman-teman sekelompok. Dalam hal tersebut saya berkesempatan langsung Pekernalan satu sama lain.

        Pada tanggal 15-16 Maret 2024, peserta CGP melaksanakan Pretes Paket Modul 1. Selanjutnya mempelajari Modul 1.1 tentang Mulai Dari Diri dan Eksplorasi Konsep dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2024. Konsep Forum diskusi dipimpin dan dipandu oleh Fasilitator, ibu Roza Novita, Dari kegiatan Mulai dari Diri dan Eksplorasi Konsep kami mengetahui dan mulai memahami tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan dan Pengajaran, dalam kesempatan itu kami berdiskusi dengan sesama teman Calon Guru Penggerak. Setelah memulai materi Mulai Dari Diri dan Eksplorasi yang dilaksanakan diskusi secara virtual, kita juga berdiskusi dengan Fasilitator pada Modul 1.1 eksplorasi konsep dilaksanakan via Google meet pada tanggal 19 Maret 2024.

        Kami juga mengikuti ruang kolaborasi dengan Fasilitator, Ibu Roza Novita. Hal yang menarik saat mengikuti kegiatan ruang kolaborasi kelompok. CGP berdiskusi di ruang virtual tentang budaya daerah yang mengandung konsep-konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara. Fasilitator membuka Forum Diskusi dengan menegaskan tujuan pembelajaran, yaitu CGP mampu memberikan refleksi kritis tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara dalam forum Diskusi. Disana kami berbagi pengalaman dan berdiskusi dengan teman-teman mengenai filosofi KHD dan penerapannya di sekolah.

        Selanjutnya, kami diminta untuk membuat karya berupa Demonstrasi Kontekstual pada tanggal 22 Maret 2024. Materi Elaborasi Pemahaman dilaksanakan pada tanggal 26 Maret 2024,dalam kegiatan Eloborasi Konsep CGP dijelaskan pemahaman secara mendalam tentang Konsep Dasar Pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Relevansinya dengan pendidikan Abad 21, pada elaborasi konsep, kami mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman dari instruktur dan teman-teman CGP. Selain itu CGP diminta untuk membuat pertanyaan di LMS, pertanyaan akan dibaca oleh Instruktur dan dibahas dalam Gmeet. Dalam kegiatan tersebut bapak/ibu CGP juga diminta untuk menilai kinerja instruktur.

        Kurang lebih selama dua minggu, kami belajar mandiri melalui LSM yang dirancang dengan sangat “friendly user”, sehingga para CGP tidak susah untuk mengeksplore fitur-fitur yang ada di dalam LMS itu sendiri. Kegiatan demi kegiatan dilaksanakan hingga kami diharuskan membuat karya berupa Demonstrasi konstektual, Koneksi Antar Materi, Jurnal dwi mingguan, dan Aksi Nyata.

        Feeling (Perasaan)

        Selama kurang lebih dua minggu saya menjadi CGP, banyak sekali hal yang saya rasakan. sedih, senang, galau, bahagia, semua bercampur baur dengan keinginan dan tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini. Keseluruhan perasaan tersebut saya ibaratkan juga dengan apa yang dialami oleh murid-murid saya.

        Banyak ilmu yang saya dapatkan selama menjalani proses ini, bagaimana menjadi guru yang seharusnya, bagaimana memerdekakan anak, upaya apa yang harus dilakukan dalam menunjang proses pembelajaran yang berhamba kepada anak. Keseluruhan rangkaian yang ada di dalam LMS membuat saya merasakan bahwa apa yang saya miliki tentang Pendidikan sangat jauh dari yang diharapkan dengan tujuan Ki Hajar Dewantara. Betapa hebatnya sosok Ki Hajar Dewantara yang mengatakan bahwa kita harus memanusiakan manusia, sehingga murid dapat mencapai kodrat alam, namun juga tetap selalu membuka mata untuk setiap hal positif di luaran sana (kodrat zaman) sehingga anak didik kita dapat merasakan kebahagiaan dan keselamatan sejati.

        Findings (Pembelajaran)

        Dari pembelajaran ini saya menemukan hal-hal yang kurang saya pahami sebelumnya yaitu tentang filosofis Ki Hajar Dewantara. Saya mendapat ilmu-ilmu baru yang sangat saya perlukan untuk meningkatkan kompetensi saya sebagai seorang pendidik. Melalui Dasar pemikiran ki hajar Dewantara saya merasa mendapat bekal yang tidak ternilai harganya.

        Saya menyadari bahwa anak memiliki kodrat merdeka, merdeka batin adalah pendidikan sedangkan merdeka lahir adalah pengajaran. Dua hal yang saling bergantug satu sama lain. Oleh karena itu saya harus memberikan kemerdekaan kepada anak-anak untuk menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai dengan minat, bakat , dan kreatifitasnya sebab manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Sebagai seorang pendidik saya harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun anggota masyarakat dengan mengacu pada trilogi pendidikan yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso dan tut wuri handayani dan berhubungan dengan kearifan budaya lokal.

        Sebagai pendidik saya harus senantiasa menghamba kepada anak atau dengan kata lain berpihak pada mereka. Saya juga harus memandang murid bukanlah kertas yang bisa digambar sesuai kemauan saya, karena mereka lahir dengan kodrat yang samar. Tugas kita adalah menebalkan garis-garis samar itu agar dapat memperbaiki lakunya untuk menjadi manusia seutuhnya sesuai dengan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Menerapkan Praktik baik dan budi pekerti yang luhur merupakan keharusan yang tidak terbantahkan dengan cara mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan pencapaian profil pelajar Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri , Kreatif dan bernalar kritis.

        Seorang pendidik diibaratkan seorang petani yang akan menghasilkan tanaman-tanaman berkualitas. Untuk itu menanam :
  • Benih Pengetahuan: Seperti seorang petani yang menanam benih di ladang, seorang pendidik menanam benih pengetahuan dalam pikiran siswa. Mereka memberikan pemahaman dan informasi kepada siswa, yang akan tumbuh dan berkembang seiring waktu.
  • Merawat Pertumbuhan: Seorang petani merawat tanaman mereka dengan memberikan perawatan yang diperlukan, seperti air, sinar matahari, dan nutrisi. Begitu juga, seorang pendidik merawat perkembangan siswa dengan memberikan bimbingan, motivasi, dan dukungan yang diperlukan untuk memastikan pertumbuhan yang optimal.
  • Menyediakan Lingkungan yang Menguntungkan: Seorang petani menciptakan lingkungan yang optimal bagi tanaman mereka untuk tumbuh. Demikian pula, seorang pendidik menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, aman, dan menginspirasi bagi siswa mereka. Ini termasuk menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar, memberikan dukungan emosional, dan memfasilitasi kolaborasi antar siswa.
  • Memanen Hasil: Seperti seorang petani yang memanen hasil usahanya, seorang pendidik merasakan kebanggaan ketika siswa mereka mencapai kemajuan, memperoleh pemahaman baru, atau mencapai prestasi yang luar biasa. Seperti hasil panen yang memuaskan, pertumbuhan dan kemajuan siswa merupakan hasil dari upaya dan investasi yang dilakukan oleh pendidik.
  • Menghadapi Tantangan Alam: Seorang petani menghadapi tantangan seperti perubahan cuaca, serangan hama, dan penyakit tanaman. Demikian pula, seorang pendidik menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran, seperti perbedaan gaya belajar siswa, kesulitan pemahaman, atau masalah perilaku. Sebagai petani yang tangguh, seorang pendidik juga harus beradaptasi dan mencari solusi kreatif untuk mengatasi tantangan ini.
  • Menyebarkan Biji Pengetahuan: Seperti petani yang membagikan biji kepada petani lain untuk menyebarkan pengetahuan dan pengalaman, seorang pendidik juga berbagi pengetahuan, metode pengajaran, dan praktik terbaik dengan sesama pendidik. Kolaborasi dan pertukaran informasi ini penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
  • Menggunakan perumpamaan ini, diharapkan dapat lebih memahami peran penting seorang pendidik dalam proses pendidikan dan bagaimana mereka secara aktif berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan siswa mereka.

        Future (Penerapan)

        Saya akan melakukan hal terbaik dalam proses pembelajaran saya dikelas, agar tujuan pendidikan bisa tercapai dengan baik. Banyak hal yang akan saya benahi, karena saya sadar selama ini yang saya lakukan jauh dari kata sempurna jika dikaitkan dengan filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara. Pembelajaran yang berpusat pada guru harus segera diganti dengan pembelajaran yang berpusat pada murid, agar tercipta interaktif yang menyenangkan didalam kelas ataupun dilapangan. Memberi kebebasan kepada anak-anak untuk menggali potensi yang dimilikinya harus terjadi dalam proses pembelajaran agar mereka menemukan jati dirinya sehingga menjadi manusia seutuhnya.

        Mengarahkan bukan lagi hal yang perlu dipertahankan tetapi kita harus merubahnya dengan menuntun peserta didik agar kodrat alam yang dimilikinya sejak lahir bisa berkembang kearah yang lebih baik dan kodrat zaman dimana mereka hidup saat ini bisa mereka dapatkan sehingga akan mempermudah mereka dalam mengatasi persoalan hidupnya dimasa kini ataupun masa mendatang.

        Berikut adalah cara saya melakukan proses pembelajaran di kelas:

  • Tetapkan Tujuan yang Jelas: Misalnya, ingin mencapai nilai tertentu, memahami konsep tertentu, atau mengembangkan keterampilan khusus. Tujuan yang jelas akan memberikan Anda arah dan motivasi yang diperlukan.
  • Buat Jadwal Belajar yang Teratur: Buat jadwal belajar yang teratur dan disiplin. Ini akan membantu saya mengalokasikan waktu yang cukup untuk mempelajari materi pelajaran dan mengerjakan tugas.
  • Jaga Lingkungan Belajar yang Baik: Ciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bebas gangguan.
  • Gunakan Berbagai Sumber Belajar: Jangan terpaku pada satu sumber belajar saja. Dengan manfaatkan berbagai sumber seperti buku teks, materi online, video pembelajaran, dan diskusi dengan teman sekelas. Ini akan memberikan sudut pandang yang beragam dan siswa memahami konsep dengan lebih baik.
  • Jangan Takut untuk Bertanya
  • Lakukan Latihan dan Mengerjakan Tugas
  • Bersikap Positif dan Percaya Diri

        Demikianlah Pemaparan refleksi Jurnal Dwimingguan terkait pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara Modul 1.1. Terimakasih

        Salam Guru Penggerak. Tergerak, Bergerak, Menggerakkan.

        Guru Bergerak, Indonesia Maju.

        Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Rabu, 27 Maret 2024

Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

  

A. Sebelum mempelajari Modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan KHD

        Sebelum mempelajari modul 1.1 Refleksi Filosofis Ki Hajar Dewantara. Pembelajaran yang saya lakukan masih berpusat pada guru dimana murid hanya sebagai objek pembelajaran saja. Saya hanya sebatas mentransfer materi pelajaran saja dengan menganggap ketuntasan dalam penyampaian materi lebih penting daripada memahami karakteristik murid. Disini biasanya saya hanya melihat nilai murid dari aspek kognitif saja misalnya saat mereka mengerjakan soal berupa Tugas atau Penilaian Harian jika nilai murid sudah mencapai KKM dinyatakan bahwa pembelajaran sudah berhasil begitu sebaliknya. Sebelumnya-pun saya tidak memperdulikan apakah murid sudah benar-benar paham dari apa yang saya ajarkan atau tidak, karena fokus utama saya lebih pada ketercapaian materi mengingat materi yang saya ajarkan sangat padat. 

         Dalam proses pembelajaran yang saya lakukan, saya masih dominan menggunakan metode ceramah, memberi contoh soal kemudian memberi latihan soal pendalaman materi. Siswa dituntut harus mengikuti semua arahan – arahan yang saya berikan untuk dapat mencapai kompetensi yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jika murid tidak mengikuti arahan saya, biasanya saya akan marah dan memberi ancaman dan hukuman. Oleh karena hal ini murid merasa tertekan dan berakibat fatal pada gagalnya penanaman karakter dan pencapaian kompetensi mereka sehingga saya pun sering merasa gagal dan mengeluh jika banyak murid yang tidak tuntas setelah melakukan evaluasi. Dari sini apa yang saya lakukan saya sadari salah dan jauh dari pemikiran bahwa seorang Guru harus menghamba pada murid. 


B. Filosofi Pemikiran KHD 

1. Pendidikan Yang Menuntun 

        Bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak – anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya baik sebagi manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan, namun pendidik harus bisa menjadi “pamong” dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang “Pamong” dapat memberikan “tuntunan” agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Anak juga secara sadar memahami bahwa kemerdekaan dirinya juga mempengaruhi kemerdekaan anak lainnya. Oleh sebab itu tuntunan seorang guru mampu mengelola dirinya untuk hidup bersama dengan orang lain (menjadi manusia dan anggota masyarakat)

2. Pendidikan Yang Sesuai Kodrat Alam dan Kodrat Zaman

        KHD menjelaskan bahwa dasar Pendidikan anak berhubungan dengan kodrat Alam dan Kodrat Zaman. Kodrat Alam berkaitan dengan “sifat” dan “bentuk” lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan “isi” dan “irama”

        KHD hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodrtanya sesuai dengan alam dan zamannya. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan Abad ke-21, sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka pendidikan harus disesuaikan dengan konteks lokal sosial budaya murid setempat, Murid di Indonesia Barat tentu memliliki karakteristik yang berbeda dengan murid di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur.

3. Pendidikan yang memerdekakan dan menghamba pada anak.

        Pendidikan yang memerdekakan menurut KHD adalah suatu proses pendidikan yang meletakkan unsur kebebasan anak didik untuk mengatur dirinya sendiri, bertumbuh kembang menurut kodratnya secara lahiriah dan batiniah. Pendidikan harus berorientasi pada murid sehingga pendidikan harus berhamba (melayani dengan sepenuh hati) pada anak.


C. Pemikiran dan Perilaku yang berubah setelah mempelajari Modul 1.1

        Setelah saya mempelajari modul 1.1 Refleksi Filosofis Pendidikan Ki Hajar Dewantara, saya menyadari bahwa apa yang saya pikirkan dan saya lakukan selama ini tidaklah tepat. Seharusnya saya melakukan proses pembelajaran secara menyeluruh bukan hanya aspek kognitif saja namun juga afektif psikomotor spiritual sosial dan budaya. Murid harusnya saya dudukan pada porsinya yaitu bukan sebagai objek pembelajaran melainkan subjek pembelajaran yang artinya murid memiliki kebebasan berekspresi mengemukakan pendapat dan berkreasi sesuai dengan metode atau model pembelajaran dan media yang tepat. Saya sebagai guru harus menjadi pamong dan fasilitator dalam proses pembelajaran, harus penuh kesabaran dengan segala keikhlasan dan ketulusan hati mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan dan berpusat pada murid. Selain itu saya sebagai guru harus mempelajari karakteristik murid karena setiap anak dilahirkan unik dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, saya harus menghargai setiap karakter murid dengan memberikan kesempatan untuk mereka tumbuh sesuai dengan kodratnya.

D. Penerapan di Kelas Untuk Mewujudkan Pemikiran KHD

        Hal yang dapat segera saya terapkan dalam pembelajaran di kelas antara lain merancang pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan dengan melibatkan murid sesuai dengan metode student center. Saya akan menerapkan pembelajaran abad 21 yang sesuai dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu berpikir kritis kreatif komunikasi dan kolaborasi dengan berpegang teguh pada konsep memerdekakan anak. Pembelajaran tidak lagi menuntut tetapi menuntun karena tugas guru adalah memberi tuntunan atau arahan yang baik kepada murid dan berusaha menjadi teladan bagi murid, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Selanjutnya saya harus mengenali karakter dan latar belakang murid dengan menjalin komunikasi yang baik.


Oleh : SAYED MUNANDAR, S.Pd

Guru PJOK SDN 11 Rupat

CGP Angkatan 10 Kabupaten Bengkalis